Jakarta – Penutupan Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 menghadirkan panggung istimewa yang menempatkan kain ulos sebagai pusat perhatian. Acara yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, pada Minggu, 2 Agustus 2026, memperlihatkan bagaimana warisan budaya Sumatra Utara terus berkembang melalui sentuhan desain modern.
Rangkaian acara dibuka dengan pertunjukan tari yang menggambarkan kekayaan budaya berbagai daerah di Sumatra Utara. Setelah itu, runway sepenuhnya menampilkan beragam kreasi ulos dalam interpretasi yang lebih segar dan relevan dengan tren fesyen masa kini.
Tema “Ulos Simetria” menjadi benang merah seluruh presentasi. Melalui tema tersebut, para desainer menghadirkan perpaduan harmonis antara nilai tradisi dan inovasi. Ragam warna cerah yang mendominasi koleksi juga mencerminkan keberagaman karakter masyarakat.
Torang Sitorus menjelaskan bahwa penggunaan ulos berwarna-warni menjadi simbol keberagaman sehingga masyarakat dapat memilih warna yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Desainer Tampilkan Beragam Interpretasi Modern terhadap Ulos
Label asal Malaysia, rajarezza, membuka sesi peragaan dengan menghadirkan ulos sebagai kain lilit dalam berbagai gaya. Beberapa tampilan menggunakan teknik layering untuk menciptakan dimensi visual, sementara sebagian lainnya membiarkan ulos menjuntai sehingga menghasilkan siluet yang lebih longgar.
Selanjutnya, ulos juga tampil sebagai atasan berlapis yang menjadi pusat perhatian dalam setiap busana. Saat dipadukan dengan setelan satin, tampilannya terlihat formal. Sebaliknya, ketika dipasangkan dengan celana longgar, kesan kasual langsung muncul sehingga memperlihatkan fleksibilitas kain tradisional tersebut.
Di tengah pertunjukan, Michalis Pantelidis menghadirkan koleksi scarf yang dirancang untuk berbagai kebutuhan, mulai dari busana kerja hingga gaya liburan. Kehadiran koleksi tersebut memberikan variasi sebelum panggung kembali menampilkan eksplorasi ulos.
Kolaborasi Desainer Dorong Ulos Masuk ke Gaya Kontemporer
Dekranasda Kabupaten Simalungun bersama Navikara by Junot Hutabarat memperkenalkan 10 tampilan yang menggabungkan ulos khas Simalungun dengan denim hasil rework. Kolaborasi tersebut mengusung konsep keberlanjutan melalui rancangan outer, kemeja, rok maxi, A-line skirt, hingga celana longgar yang tetap kaya tekstur dan detail.
Berikutnya, Dekranasda Sumatra Utara berkolaborasi dengan Hendy Huang menghadirkan interpretasi ulos yang elegan sekaligus berkarakter. Sang desainer memadukan structured top, detail rumbai, interpretasi kebaya klasik, dan material velvet untuk menghasilkan tampilan yang mewah. Ulos digunakan sebagai bawahan maupun aksesori bahu sehingga menunjukkan fleksibilitasnya dalam busana modern.
Sementara itu, penutup peragaan menghadirkan kolaborasi Poppy Dharsono dan Torang Sitorus. Koleksi tersebut menampilkan warna-warna cerah yang memperkuat pesan keberagaman sekaligus membuktikan bahwa ulos mampu terus beradaptasi di industri fesyen nasional.
Indonesia Fashion Week 2026 Perkuat Posisi Ulos di Industri Fesyen Nasional
Malam penutupan IFW 2026 juga menjadi bentuk apresiasi terhadap para penenun, perajin, dan pelaku wastra Sumatra Utara yang terus melestarikan ulos. Salah satu pelaku wastra menyampaikan rasa terima kasih kepada APPMI, Poppy Dharsono, dan BTN atas dukungan yang diberikan sehingga pencapaian tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Sumatra Utara.
Sepanjang penyelenggaraan pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026, IFW mengusung tema “Ulos Simetria” yang menampilkan beragam wastra Nusantara, termasuk ulos, songket, tenun ikat, dobel lungsi, sirat, dan marsimata. Seluruh koleksi dikembangkan dalam siluet modern dengan dominasi warna pastel, pewarna alami, serta detail ornamentasi.
Poppy Dharsono menilai tema tersebut menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Di sisi lain, Ketua Dekranasda Sumatra Utara Kahiyang Bobby Nasution menyebut IFW menjadi momentum penting untuk memperkenalkan keberagaman ulos kepada masyarakat yang lebih luas.
Penyelenggaraan IFW 2026 melibatkan lebih dari 200 desainer, sekitar 500 tenant fesyen dan UMKM, menarik lebih dari 35 ribu pengunjung, serta mencatat nilai transaksi melampaui Rp10 miliar.