Rama Dauhan dan Benang Jarum Hidupkan Puisi Hujan Bulan Juni dalam Koleksi Busana Feminin

Jakarta, 27 Juli 2026 — Benang Jarum bersama desainer Indonesia Rama Dauhan menghidupkan kembali romantisme puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono melalui koleksi busana terbaru. Kolaborasi tersebut menerjemahkan nuansa rindu, perjalanan, dan perasaan yang tersimpan dalam karya sastra itu ke dalam busana ready-to-wear yang feminin, elegan, ekspresif, dan tetap mudah dikenakan.

Rama Dauhan membawa pendekatan desain yang playful dan artistik ke dalam karakter elegan Benang Jarum. Ia mengembangkan interpretasi Hujan Bulan Juni melalui permainan motif, warna, serta siluet yang menghadirkan karakter berbeda pada setiap busana.

Rama melihat puisi Hujan Bulan Juni sebagai karya sederhana yang menyimpan kedalaman rasa. Karena itu, ia menerjemahkan unsur kerinduan dan perjalanan emosional tersebut melalui komposisi pattern yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Koleksi Hujan Bulan Juni Menggambarkan Perjalanan Melalui Tiga Babak

Rama Dauhan membagi koleksi Hujan Bulan Juni ke dalam tiga babak, yaitu loving, meeting, dan finding. Ketiga fase tersebut menggambarkan perjalanan seseorang ketika mencintai, bertemu dengan sesuatu yang mengubah arah hidup, hingga menemukan hal yang paling dekat dengan dirinya.

Konsep tersebut kemudian muncul melalui berbagai elemen visual. Benang Jarum dan Rama Dauhan menghadirkan wavy stripes yang dinamis, motif floral yang quirky, serta monogram Benang Jarum untuk memperkuat karakter koleksi.

Selain itu, keduanya menggunakan siluet santai dan potongan flowy agar busana terasa ringan ketika dikenakan. Koleksi tersebut juga menyasar laki-laki dan perempuan modern yang ingin tampil effortless sekaligus mempertahankan karakter personal.

Benang Jarum Memadukan Motif dan Warna untuk Memperkuat Karakter Koleksi

Benang Jarum memperluas eksplorasi desain melalui permainan motif, warna, dan siluet. Creative Director Benang Jarum, Mifthahul Jannah, menjelaskan bahwa kolaborasi ini mempertemukan identitas elegan Benang Jarum dengan bahasa desain Rama Dauhan yang lebih ekspresif.

Menurut Mifthahul, kolaborasi dengan Rama Dauhan menghadirkan interpretasi baru terhadap Hujan Bulan Juni tanpa meninggalkan sisi wearable. Perpaduan tersebut membuat koleksi tetap mudah dikenakan sekaligus memiliki karakter visual yang kuat.

Pada akhirnya, Benang Jarum dan Rama Dauhan tidak hanya mengadaptasi judul puisi ke dalam fashion. Keduanya juga menerjemahkan cerita, emosi, dan nilai budaya yang melekat pada karya Sapardi Djoko Damono ke dalam busana kontemporer. Koleksi ini menunjukkan bagaimana sastra Indonesia dapat menemukan bentuk baru melalui kreativitas fashion.

 

uniqueprivacy.org