Kartini Era Kini: SukkhaCitta dan Denica Riadini Flesch, Saat Fashion Jadi Jalan untuk Memberdayakan Perempuan Indonesia

SukkhaCitta Dorong Pemberdayaan Perempuan Lewat Fashion Berkelanjutan di Era Kartini Modern

Denica Flesch, CEO Sukha Citta Mewakili Indonesia di Ajang Cartier Women's Initiative 2023

Denica Riadini-Flesch Bangun SukkhaCitta untuk Jawab Tantangan Industri Garmen

Industri garmen Indonesia terus menjadi tulang punggung ekonomi nasional, namun realitas di baliknya menunjukkan jutaan perempuan masih bekerja tanpa upah layak. Data dari International Labour Organization mencatat sekitar 5,2 juta pekerja di sektor tekstil dan garmen didominasi perempuan, tetapi kurang dari dua persen menerima upah layak.

Melihat kondisi tersebut, Denica Riadini-Flesch memutuskan kembali ke Indonesia setelah menempuh pendidikan ekonomi pembangunan di Belanda. Ia kemudian mendirikan SukkhaCitta sebagai langkah konkret untuk menciptakan perubahan. Melalui brand ini, ia berupaya menghubungkan pengrajin desa dengan konsumen global sekaligus memperbaiki sistem yang selama ini tidak berpihak pada pekerja.

SukkhaCitta Hubungkan Pengrajin Desa dengan Pasar Global Secara Langsung

SukkhaCitta hadir sebagai jembatan antara pengrajin lokal dan pasar internasional yang semakin peduli terhadap proses produksi pakaian. Brand ini tidak hanya menekankan kualitas produk, tetapi juga transparansi serta keberlanjutan dalam setiap tahap produksi.

Selain itu, Denica menyoroti dampak lingkungan dari industri tekstil yang selama ini bergantung pada bahan kimia berbahaya. Ia bersama timnya kemudian menggali kembali praktik tradisional yang lebih ramah lingkungan, termasuk metode penanaman kapas berbasis ekosistem hutan yang pernah dilakukan generasi sebelumnya.

SukkhaCitta Terapkan Prinsip Etis dan Ramah Lingkungan dalam Produksi

Dalam operasionalnya, SukkhaCitta menerapkan berbagai prinsip keberlanjutan secara menyeluruh. Perusahaan ini memberikan upah layak kepada para pekerja, menyediakan pelatihan bisnis, serta menawarkan akses pembiayaan tanpa bunga bagi perempuan di desa.

Di sisi lain, SukkhaCitta juga menghilangkan penggunaan bahan kimia berbahaya, menghindari plastik dalam rantai pasok, serta memanfaatkan pewarna alami dan kapas organik. Seluruh sisa kain produksi pun didaur ulang untuk meminimalkan limbah.

Pendekatan ini membuktikan bahwa industri fashion dapat berjalan selaras dengan kepentingan sosial dan lingkungan tanpa mengorbankan kualitas.

SukkhaCitta Perluas Dampak dari Tiga Perempuan Menjadi Ribuan Kehidupan

Sejak berdiri pada 2016, SukkhaCitta berkembang pesat dari hanya melibatkan tiga perempuan menjadi lebih dari 1.500 orang di berbagai daerah Indonesia. Perkembangan ini menunjukkan bahwa model bisnis berbasis pemberdayaan mampu menciptakan dampak nyata dalam skala luas.

Denica juga menginisiasi program Mama Kapas yang mengajak perempuan di Indonesia timur untuk kembali menanam kapas menggunakan metode agroforestri. Program ini sekaligus menjadi solusi menghadapi perubahan iklim dan memperkuat ketahanan ekonomi lokal.

Pada 2020, SukkhaCitta mendirikan Rumah SukkhaCitta Foundation untuk memperluas jangkauan dampak sosial. Yayasan ini menargetkan pemberdayaan hingga 10 ribu kehidupan serta regenerasi 1.000 hektare lahan yang terdegradasi.

Denica Riadini-Flesch Raih Pengakuan Global Lewat Cartier Women’s Initiative

Upaya Denica mendapat pengakuan internasional ketika ia terpilih sebagai peserta Cartier Women’s Initiative 2023. Ia menjadi salah satu finalis dari kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah sekaligus mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi tersebut.

Program yang digelar sejak 2006 ini mendukung wirausaha perempuan dengan dampak sosial dan lingkungan melalui pendanaan, pelatihan, dan jaringan global. Keterlibatan Denica menegaskan bahwa pendekatan SukkhaCitta relevan tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga global.

Denica Riadini-Flesch Hadirkan Sosok Kartini Masa Kini Lewat Aksi Nyata

Melalui SukkhaCitta, Denica menghadirkan perubahan nyata bagi perempuan di desa. Ia membuka akses terhadap pendidikan, pelatihan, serta peluang ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Perjalanan tersebut menjadikan Denica sebagai representasi Kartini masa kini yang tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga menciptakan sistem yang memungkinkan perempuan mandiri dan berdaya. Ia membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana, termasuk dari sehelai kain yang diproduksi secara etis.

 

uniqueprivacy.org