Max Mara Art Prize for Women Memasuki Asia Tenggara dan Mengukuhkan Dialog Global Perupa Perempuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485430/original/033833600_1769506548-Installation_view_of_Pointing_to_the_Synchronous_Windows_at_Museum_MACAN__Jakarta__2025.__Image_courtesy_of_Museum_MACAN.jpg)
Museum MACAN di Jakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Max Mara Art Prize for Women periode 2025–2027 yang diumumkan pada 27 Januari 2026. Kehadiran penghargaan seni internasional ini menandai debut resminya di Asia Tenggara sekaligus membuka babak baru dialog global yang merayakan praktik artistik perupa perempuan lintas budaya.
Penghargaan yang memasuki edisi ke-10 ini mengadopsi format nomadik, di mana setiap penyelenggaraan berlangsung di negara berbeda. Indonesia terpilih sebagai lokasi perdana dalam format baru tersebut, menegaskan pergeseran pusat inovasi seni kontemporer yang semakin inklusif dan tidak lagi terpusat di wilayah tertentu.
Max Mara Art Prize for Women Mengusung Warisan Seni dan Komitmen Jangka Panjang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485431/original/045919500_1769506549-Sara_Piccinini__Director_of_Collezione_Maramotti._Image_courtesy_of_Max_Mara_Art_Prize_for_Women.jpg)
Max Mara Fashion Group mendirikan Max Mara Art Prize for Women pada 2005 sebagai wujud komitmen mendukung perupa perempuan melalui riset, eksplorasi artistik, dan pengembangan profesional. Penghargaan ini dikembangkan bersama Collezione Maramotti, koleksi seni kontemporer privat yang berlokasi di Reggio Emilia, Italia.
Selama dua dekade, penghargaan ini berperan sebagai ruang penting bagi praktik seni berbasis riset. Dengan visi internasional yang semakin luas, Max Mara Art Prize for Women kini memperkaya percakapan seni global melalui keterlibatan konteks budaya yang beragam, termasuk Asia Tenggara.
Indonesia Menjadi Titik Temu Perspektif Global dan Lokal
Edisi kesepuluh sekaligus menandai berakhirnya kemitraan jangka panjang dengan Whitechapel Gallery London. Peralihan ini membuka ruang kolaborasi baru yang mempertemukan lanskap seni lintas negara secara lebih setara dan inklusif.
Kurator internasional Cecilia Alemani, Direktur dan Kurator Utama High Line Art New York, memimpin fase baru penghargaan ini. Untuk edisi Indonesia, Alemani memimpin dewan juri bersama Venus Lau selaku Direktur Museum MACAN, Amanda Ariawan, Megan Arlin, Evelyn Halim, dan Melati Suryodarmo. Komposisi ini memperkuat dialog antara perspektif global dan lokal dalam menentukan perupa terpilih.
Program Residensi Italia Memperluas Dampak Ekosistem Seni
Max Mara Art Prize for Women menyertakan program residensi enam bulan di Italia bagi perupa terpilih. Program ini memberikan ruang eksperimental untuk riset mendalam, pengembangan jejaring internasional, serta pengolahan warisan budaya Italia dalam praktik kontemporer.
Venus Lau menegaskan bahwa kehadiran penghargaan ini di Indonesia memberi dampak luas bagi ekosistem seni nasional. Sementara itu, Cecilia Alemani memandang format global penghargaan ini sebagai bentuk diplomasi budaya yang relevan, yang menjembatani tradisi, inovasi, dan keberagaman praktik artistik dunia.
Melalui kolaborasi dengan Museum MACAN, Max Mara Art Prize for Women menempatkan Indonesia sebagai bagian penting dari peta seni kontemporer global dan memperkuat posisi perupa perempuan dalam dialog internasional.