Masyarakat Beralih Pilih Baju Lebaran Berkelanjutan untuk Kurangi Dampak Lingkungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5397669/original/050679400_1761813317-Sejauh_Mata_Memandang_-_Larung__JFW_2026__14_.jpg)
Desainer dan Konsumen Terapkan Baju Lebaran Berkelanjutan untuk Idul Fitri
Jakarta – Saat Idul Fitri tiba, tradisi mengenakan baju baru sering menjadi hal yang tidak terpisahkan. Namun, meningkatnya kesadaran akan polusi dari industri fesyen mendorong desainer dan konsumen beralih ke baju Lebaran berkelanjutan. Chitra Subyakto, pendiri Sejauh Mata Memandang, menekankan pentingnya refleksi dan harapan bagi laut yang semakin rusak akibat aktivitas manusia melalui pesan fesyen yang ditampilkan pada koleksi “Larung” di JFW 2026.
Industri Fesyen Mencatatkan Emisi dan Limbah Tekstil Signifikan Setiap Tahun
Industri fesyen global menghasilkan emisi tekstil sekitar 1,2 miliar ton CO₂ per tahun, lebih besar dibanding jejak karbon penerbangan internasional. Selain itu, 85 persen tekstil berakhir di tempat pembuangan sampah. Hal ini membuat pakaian, termasuk baju Lebaran, memiliki dampak lingkungan yang serius. Desainer hijab Lena Aljahim menyatakan bahwa praktik etis dan keberlanjutan harus diterapkan, terutama saat perayaan Idul Fitri. Islamic Relief juga menekankan bahwa mengenakan pakaian terbaik tidak harus selalu membeli baru, tetapi bisa memanfaatkan pakaian lama atau membeli barang bekas.
Konsumen Terapkan Cara Kreatif Agar Baju Lebaran Tetap Stylish dan Ramah Lingkungan
Masyarakat kini menata ulang pakaian lama dengan aksesori atau modifikasi desain agar terlihat baru. Alternatif lain adalah membeli pakaian bekas atau vintage yang menawarkan kualitas unik, menyewa pakaian formal, hingga membuat pakaian sendiri. Pilihan ini memungkinkan konsumen tetap tampil menawan tanpa menambah limbah tekstil. Tren ini mencerminkan pola pikir baru, dari budaya “ambil-buat-buang” menuju tanggung jawab lingkungan melalui ekonomi fesyen sirkular.
Generasi Milenial dan Konsumen Global Mulai Pilih Produk Berkelanjutan
Survei di Timur Tengah menunjukkan 40 persen konsumen bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan. Pergeseran pola pikir ini memperlihatkan bahwa kesadaran lingkungan semakin meningkat dan konsumen mulai mendukung merek yang berkomitmen pada praktik ramah lingkungan. Dengan memilih baju Lebaran berkelanjutan, masyarakat tidak hanya menampilkan penampilan terbaik, tetapi juga menciptakan dampak positif bagi bumi.